6 Bulan Pertama di Pasar Saham

Sebelum lulus kuliah, salah satu alumni pernah berbagi cerita mengenai pentingnya memiliki rencana keuangan dan memiliki anggaran untuk berinvestasi. Beliau memberikan contoh persentase anggaran yang perlu disiplin diterapkan. Saya lupa yang beliau contohkan, intinya perlu anggaran untuk pemenuhan kebutuhan hidup, sedikit memanjakan diri, tabungan darurat, tabungan keperluan lain, dan juga investasi.

Instrumen investasi sebenarnya sangat banyak. Yang saya pilih saat ini adalah saham karena saya anggap ilmunya long lasting. Sebelumnya saya sudah mencoba investasi di usaha kuliner milik teman saya yg menjanjikan deviden sebesar 8% per tahun. Karena dia sudah saya kenal cukup lama dan orangnya cukup amanah, saya berani memberikan seluruh tabungan saya ke beliau. Sayangnya, dua tahun kemudian, dia minta maaf karena telah ditipu orang. Uang saya beserta investor lain tidak sanggup dia ganti. Sejak saat itu, saya punya trust issue, termasuk ketika diajak ikut iuran membuka gerai waralaba dengan teman dekat. Saya pun mencari instrumen investasi yang pengelolaannya lebih minim campur tangan orang lain.

Pilihan mengerucut pada Surat Berharga Negara, reksadana (atau dana reksa, sih?), dan juga saham. Di antara ketiganya, Surat Berharga Negara memberikan jaminan yang paling rendah resikonya. Di reksadana, uang kita akan kita titipkan ke manajer investasi. Resiko akan lebih rendah daripada terjun langsung di pasar saham karena pastinya para manajer investasi adalah orang terlatih dan bersertifikat. Namun, melihat kecilnya gain yang diberikan reksadana dan kinerjanya yang tidak selalu membuahkan gain(kadang bisa loss juga, perlu diawasi), saya tidak memilih opsi itu. Apalagi, dengan menitipkan uang ke manajer investasi, saya tidak akan mendapat pelajaran apapun. Saya hanya akan seperti sebelumnya, menitipkan uang secara buta, seperti penjudi yang cuma dapat berspekulasi. Secara keseluruhan, bagi saya, lebih baik membeli Surat Berharga Negara daripada reksadana varian apapun.

Pilihan akhirnya jatuh pada terjun langsung di pasar saham. Sebagai muslim, yang pertama saya cari adalah info kehalalannya. Ternyata MUI sudah pernah memberikan fatwa halal. Terlebih untuk menjamin kehalalan transaksi dipermudah adanya akun syariah di berbagai broker penjamin rekening dana nasabah. Bagi yang masih ragu kehalalannya, saya selalu memberikan analogi bahwa jual beli saham itu seperti jual beli pada umumnya.

Misalnya kita beli batu akik/ikan louhan/gelombang cinta saat sedang tren, kita berharap batu akik/ikan louhan/gelombang cinta tersebut terjual lebih mahal dari harga beli. Walaupun tren ketiganya meredup, nyatanya masih ada orang yang berharap harganya akan naik lagi. Apakah jual beli batu akik/ikan louhan/gelombang cinta haram? Saya rasa tidak. Begitu pula dengan jual beli komoditas lain. Seorang peternak ayam tidak akan selalu untung karena harga ayam di pasar bisa lebih murah daripada harga perawatan ayam dari kecil hingga siap potong. Dibandingkan hal-hal tersebut, jual beli saham malah memiliki keunggulan. Kita memiliki tools yang lebih banyak untuk membaca arah pasar. Menarik dana juga lebih cepat.

Di pasar saham, jumlah saham tiap emiten (perusahaan yang sahamnya beredar) di pasar reguler terbatas. Dengan kondisi tersebut, harga yang terbentuk di pasar saham merupakan konsekuensi langsung dari hukum supply dan demand. Supply di sini adalah penjual saham sedangkan demand adalah pembeli saham. Penjual akan berorientasi pada lakunya saham mereka, sementara pembeli akan berorientasi pada keinginan mendapatkan saham di harga termurah. Ketika supply lebih banyak, orang-orang berlomba menjual saham mereka. Layaknya penawaran dalam perdagangan, penjual akan menurunkan harga agar ada pembeli. Akhirnya harga saham akan turun. Jika demand lebih kuat, orang-orang berlomba membeli saham. Penjual akan menaikkan harga saham toh masih ada yang beli. Akhirnya harga saham akan naik. Naik turunnya harga saham dapat berangsur lama atau tidak jarang pula dalam hitungan menit.

Untuk menebak ke mana arah harga saham, orang-orang Indonesia yang saya tahu biasanya menggunakan tiga jenis analisis. Yang pertama, analisis fundamental (FA). FA melihat bagaimana perusahaan yang berjalan, prospek perusahaan tersebut, bagaimana pertumbuhannya sejauh ini, dan juga menentukan apakah saham tersebut masih murah atau sudah terlalu mahal dibandingkan kondisi nyata perusahaannya. Yang kedua adalah analisis teknikal (TA). TA murni hanya melihat pada sejarah pergerakan harga saham untuk menentukan bagaimana pergerakannya ke depan. Di TA biasanya dilihat juga bagaimana volume transaksi saham, bahwa jika ada spike pembelian, artinya besar kemungkinan harga saham akan naik cukup lama.

Saya menerapkan kedua analisis tersebut pada empat bulan pertama. Saya pertama membeli PTPP di Desember lalu menjualnya di Januari. Hasilnya, saya cuan (untung) +40%. Alasan pembelian saya adalah karena PTPP memiliki fundamental yang bagus dan di tiga tahun belakangan harganya selalu naik di antara Desember hingga Januari.

Di Januari hingga Maret, saya melakukan cukup banyak jual beli saham memakai kombinasi berbagai indikator TA (Moving Average, Stochastic, MACD, dll) dan FA. Hasilnya pun beragam. Mulai dari +2%, +5%, +9%, -1%, -5%, -10%, hingga -15%. Sayangnya, minus 15% itu terjadi ketika saya sudah memakai modal yang lebih besar daripada saat +40% di PTPP sehingga bulan Maret ditutup dengan posisi minus 15%. Minus tersebut adalah gara-gara saya membeli TRAM yang sedang mengalami golden cross di berbagai indikator TA. Kata beberapa trader saham, kemungkinan harga naik setelah golden cross cukup tinggi. Nyatanya, market memang tidak mudah diprediksi dan saya mendapat loss yang besar.

Saya menjadi semakin tidak puas dengan dua model analisis tersebut. Rasanya masih seperti berspekulasi dengan masa depan uang saya. Lalu saya menemukan metode analisis ketiga, bandarmologi. Di sini kita menganggap bahwa ada penggerak harga(bandar) yang dapat kita tumpangi. Jika bandar sedang membeli, kita ikut beli. Jika bandar sedang jual, kita juga harus jual. Bandar yang dimaksud adalah pihak yang memiliki modal besar, bisa berupa pihak asing maupun pihak lokal. Di bandarmologi ini saya belajar bagaimana mendeteksi bandar melalui orderbook dan broker summary. Sejauh ini referensi belajar saya adalah dari sini.

Bandarmologi membuat saya lebih paham juga mengenai kenapa IHSG jeblok beberapa minggu belakangan. Jawabannya adalah karena Trump dan Tiongkok sedang ada konflik perdagangan. Akibatnya, pemodal asing menarik diri dari pasar saham Indonesia hingga harga saham banyak yang jatuh. Jika hanya memakai TA, saya akan bingung kenapa tiba-tiba banyak emiten yang harga sahamnya memerah. Sementara jika hanya memakai FA, saya pun bingung, perang dagang tersebut kan tidak membuat perusahaan yang sahamnya saya pegang kinerjanya jelek. Kita harus realistis, di pasar saham Indonesia sekarang, pemilik modal besar jika sedang menggeliat akan sangat berpengaruh terhadap harga saham.

Sayangnya bekal pemahaman tersebut tidak lantas membuat saya cuan dengan mudah. Sekarang pun masih memegang saham yang sedang minus 25% sejak saya beli, karena ikut-ikutan seorang analis. Aneh ya, sudah punya beberapa bulan pengalaman masih saja dengan mudahnya ikut-ikutan. Di situlah letak titik selanjutnya di mana saya harus berkembang, yaitu menjaga psikologi agar tetap dapat berpikir jernih dalam kondisi apapun. Bagaimana agar tetap dapat bekerja dengan baik walaupun kondisi portofolio saham sedang terombang-ambing. Jangan sampai pasar modal merusak hidup.

Enam bulan ini saya belajar jauh lebih banyak daripada dua tahun menggelontorkan uang di bisnis kuliner teman saya. Memang saat ini saya dalam kondisi minus, tapi ada sebuah kebahagiaan sendiri memahami banyak hal baru. Saya jadi lebih aware terhadap berbagai berita. Jatuhnya harga ayam di pasar yang tadi saya contohkan, saya tahu itu ketika saya menganalisis emiten di sektor industri ayam(CPIN, MAIN, JPFA). Hingga saat ini saya masih bereksperimen bagaimana money management yang tepat, strategi trading dan investing yang paling tidak membebani pikiran, dan juga tentunya masih terus belajar untuk menebak arah pasar agar cuan lebih lebar serta lebih rutin.

Dari tulisan ini, saya mendapat ide untuk melanjutkan pembahasan tentang saham dalam beberapa episode tulisan. Untuk selanjutnya sepertinya akan saya tulis mengapa saya menjadi trader dan bukan investor serta ulasan mengenai sekuritas yang saya pilih. Atau ada ide lain?

Advertisements

Rantai Industri Elektronika

Beberapa tahun belakangan, rasanya salah satu pemahaman mendasar yang saya kuasai adalah mengenai rantai industri elektronika. Materi ini pernah saya bagikan pada Proton Sharing Day 2017. Gambar di bawah merupakan peta posisi warga Proton (HME ITB 2010) yang pada tahun 2017 berkarir di sektor industri elektronika. Sayangnya vector file dari gambar di bawah sudah hilang, jadi menyensor kontak beliau-beliau ini terpaksa memakai Paint. Hahaha

Sebelumnya mari kita pecah dulu tiga rantai industri utama:

  1. Industri komponen dan semikonduktor. Sesuai namanya, pada mata rantai ini, yang dibuat adalah komponen dasar dan komponen semikonduktor. Komponen semikonduktor, khususnya IC (Integrated Circuit), memiliki rantai yang tidak kalah rumit. Pasir silika diolah menjadi wafer. Wafer yang semula cuma dari pasir silika “diisi” berbagai material mikroskopis sehingga di dalamnya terdapat ribuan chip. Kemudian wafer yang berisi chip ini dibungkus melalui proses IC Packaging sehingga menjadi komponen yang siap diintegrasikan dalam sebuah PCB.
  2. OEM (Original Equipment Manufacturer) atau ODM (Original Design Manufacturer). Keduanya cuma beda jalur kepemilikan desain, intinya proses yang ada pada keduanya adalah pembuatan sistem elektronik yang seringkali belum bisa langsung dipakai konsumen. Mungkin lebih mudah kalau dibayangkan sebagai industri yang menyusun PCB.
  3. Electronic Application. Keluaran dari rantai industri inilah yang menghasilkan perangkat keras siap guna. Kadang disebut sebagai system integrator juga karena perlu mengintegrasikan berbagai perangkat keras dan perangkat lunak. Pemilik electronic application ini yang mendulang keuntungan terbesar selama mampu menyukseskan penjualan produk mereka.

Namun, kadang mata rantai industri ini tidak selalu terbagi menjadi tiga. Misal dalam kasus industri manufaktur smartphone, biasanya system integrator juga masuk ke dalam OEM/ODM sekaligus. Perakitan ponsel cerdas biasanya cukup memakai satu pabrik yang mencakup penyusunan PCB hingga pengisian firmware, bootloader, dan OS. Sementara itu di industri pembuatan smartcard, IC yang berisi mikrokontroler dan antarmuka lainnya cukup dibungkus sedemikian rupa menjadi kartu yang prosesnya dapat dilakukan dalam tahap IC Assembly (disebut juga sebagai IC Packaging). Mata rantai industri ini bisa memendek karena memang untuk dijadikan sebuah produk akhir kadang tidak memerlukan rantai industri lain.

Supaya lebih tercerahkan, mari kita lihat diagram berikut yang saya susun secara kasar dari berbagai sumber. Diagram di bawah merupakan keluaran dari masing-masing mata rantai industri elektronika.

Apakah Anda sedikit lebih tercerahkan? Jika tidak, mungkin karena lampu ruangan Anda kurang terang dan di luar sudah gelap atau mendung. Hahaha.

Jika muncul pertanyaan, kenapa Tiongkok banyak sekali memproduksi perangkat keras dalam harga yang jauh lebih murah? Jawabannya adalah karena mereka menguasai rantai industri ini dan dengan serius mereka mampu menurunkan biaya manufaktur mereka. Yang mahal di sepanjang sektor industri elektronika (di luar biaya marketing) bukanlah biaya material, namun biaya mesin dan prosesnya. Satu mesin harus mampu memproduksi sekian produk dalam tempo sekian puluh jam agar balik modal. Itu baru satu mesin.

Seiring perkembangan zaman, tuntutan produk akhir dari konsumen sangatlah beragam. Perkembangan teknologi sangat cepat membuat proses manufaktur juga perlu berevolusi agar mampu memproduksi apa yang diminta pasar. Mesin A untuk melakukan suatu proses seharga sekian miliar akan terbuang percuma ketika proses tersebut mengalami perubahan spesifikasi drastis. Dari situlah kenapa muncul bisnis OEM dan ODM. Jika ODM memproduksi barang yang mereka desain sendiri, OEM memproduksi barang yang didesain pihak lain karena spesialisasi mereka adalah melakukan proses manufaktur.

Saat ini di Indonesia sebenarnya cukup banyak pabrik yang menjadi mata rantai industri elektronika. Yang belum ada hanya di bagian wafer fab/silicon foundry. Tapi, apakah dengan kekurangan itu, sebagai bangsa kita hanya dapat menikmati? Apakah hanya industri digital yang akan berdikari? Saya sendiri punya feeling bahwa tergantung hanya pada industri digital kurang memberikan rasa aman, karena kita hanya akan ikut arus dalam industri perangkat keras, termasuk dalam urusan keamanan data. Contoh nyatanya ada pada berita berikut.

Sebenarnya kita juga tidak harus mendirikan pabrik lokal. Jika Anda seorang desainer elektronika, Anda dapat memakai jasa OEM yang banyak dan murah di Tiongkok. Sebagai gambaran, pembuatan PCB di Tiongkok cuma memerlukan harga satu dolar Amerika Serikat per lembarnya dengan ukuran hingga 15 x 15 cm persegi. Bahkan beberapa pabrik juga menyediakan jasa pemasangan komponen. Begitu sampai di tangan kita, PCB beserta komponen-komponennya sudah lengkap tersolder.

Nah, yang paling sulit dari itu semua, sebenarnya adalah bagaimana kita dapat berinovasi di ranah perangkat keras. Mungkin perlu pembahasan khusus mengenai mahal dan lambatnya pengembangan produk perangkat keras.

Sekian ^^

Karir

Setelah sekian lama tidak menulis blog, tidak sengaja menghapus domain lama, hingga menghapus konten lama di blog, akhirnya saya kembali lagi menulis. Jika hobi membaca memberikan manfaat yang dapat disebut sebagai rekreasi terindah, maka menulis membantu merapikan pikiran dan menyampaikannya dengan baik. Kali ini saya akan mengulas tentang pilihan karir saya saat ini.

Saya bekerja sebagai Test Engineer di IC design house lokal, Xirka Silicon Technology, dan merangkap di berbagai posisi lain yang menurut saya sedang dibutuhkan perusahaan. Pekerjaan saya tidak sekadar memakai alat ukur, melainkan juga memastikan berbagai spesifikasi IC agar dapat dites dengan baik, hingga mengerjakan beberapa jobdesc lain. Salah satunya adalah menentukan IC packaging seperti apa yang akan dipakai dan mengelola budgetnya. Mungkin akan saya jelaskan seperti apa IC packaging di post selanjutnya. Perlu saya tebalkan kata mungkin. Hahaha

Indonesia sendiri bukan negara yang asing dengan industri semikonduktor. Memang negara ini cukup jauh tertinggal dalam sektor industri ini, baik dari sisi IC design, wafer fabrication, dan IC packaging serta testing. Tapi bukan berarti kita sebagai negara tidak pernah bermimpi untuk berdikari di industri yang menjadi inti elektronika modern ini. Untuk membahas itu, sepertinya harus menjadi artikel sendiri. Sejarah industri semikonduktor di Indonesia perlu dibahas. Jika ulasannya detail mungkin akan menjadi buku. Akan menarik kalau saya juga mewawancarai beberapa orang untuk menuliskan kesaksian mereka. Akankah saya lakukan? Hahahaha

Yang menarik di Xirka ini, perwujudan mimpi tadi datang dengan metode berbeda. Kami mencoba mendesain IC sendiri, memproduksinya pada perusahaan fabrikasi di luar negeri, dan berusaha memasarkannya di negara sendiri agar kita berdikari walaupun “hanya” dari sisi desain.

Sebenarnya, apa sih pentingnya industri semikonduktor pada sebuah negara? Jawaban spontan saya:
1. Semikonduktor masih dan akan selalu menjadi inti sebuah inovasi perangkat keras. Untuk berinovasi di perangkat keras memang tidak harus dipaksakan dari level semikonduktor. “Hanya” dengan memanfaatkan sistem mikrokontroler populer seperti Arduino, sudah sangat banyak inovasi yang dapat dibuat. Namun, bedanya, ketika kita dapat menguasai hulu dari industri elektronika ini, inovasi yang terjadi akan berada di level yang berbeda. Ukuran perangkat dapat kita desain sendiri, kita dapat menentukan spesifikasi dengan lebih fleksibel, dan tentunya urusan keamanan dapat lebih kita kendalikan. Wah, sepertinya perlu juga pembahasan mengenai urgensi keamanan perangkat keras.
2. Penguasaan teknologi di industri semikonduktor akan merangsang gagasan-gagasan baru di masyarakat. Beberapa saat yang lalu saya menemukan ulasan yang tendensius memusuhi electronic ID. Saya dapat memandang itu sebagai representasi masyarakat yang kurang paham dengan teknologi terkait. Memang, kultur inovasi tidak akan langsung terbentuk jika segelintir orang di sebuah negara memahami industri semikonduktor. Tapi, jika ada sebuah kebanggan bahwa negara kita mampu bersaing, setidaknya masyarakat akan merasa lebih dekat dengan yang menjadi hulu inovasi perangkat keras. Perlu ada success story yang inspiratif. Saya pribadi berharap suatu saat effort dan atensi masyarakat terhadap pemilu akan berkembang menjadi keingintahuan dan keinginan untuk berinovasi.

Nah, dari pembahasan yang muluk-muluk mengenai negara, saya pribadi tergerak untuk terlibat dalam mewujudkan negara yang secara aktif menyumbangkan inovasi melalui industri semikonduktor. Cara paling sederhana bagi saya adalah ikut mengembangkan Xirka. Perusahaan ini sudah berdiri sejak 2009, namun seperti kurang terdengar kiprahnya. Bahkan di antara mahasiswa dan alumni Teknik Elektro ITB, jujur saja, tidak terasa ada ketertarikan untuk berkarir di Xirka. Sempat terbersit di benak saya untuk pergi ke luar negeri saja dan suatu saat mengembangkan perusahaan sendiri. Tapi rasanya saya hanya akan menambah daftar perusahaan semikonduktor yang meredup. Dan rencana tersebut terasa seperti hanya ingin kabur dari permasalahan yang nyata.

Xirka, perusahaan yang sudah berdiri lama, sudah memiliki investor yang setia dengan impian tegaknya industri semikonduktor Indonesia, dibimbing oleh seorang profesor mikroelektronika, dan memiliki tim yang solid dengan kapabilitas yang tinggi. Terang saja ada banyak masalah yang menjadikan Xirka kurang berkembang, namun semakin terang juga apa solusi yang harus kami lakukan.

Tidak jarang rasanya pesimisme menghinggapi ketika melihat kacaunya hal-hal yang terjadi. Rasanya perusahaan ini bersandar pada adanya keajaiban. Kami cuma punya pilihan untuk terus maju, berusaha memenuhi amanah investor dan Kementrian Ristekdikti yang juga menaruh harapan besar.

Titik terang kadang muncul dari hal yang tidak terduga. Kali ini, obrolan dengan teman seangkatan dan belajar tentang pasar modal memicu munculnya harapan tersebut. Saya mendapatkan insight bahwa yang namanya perusahaan bertumpu pada bisnis, dan setiap bisnis selalu memiliki resiko berupa kerugian.

Ini kenapa tulisan saya jadi semakin tidak membahas mengenai karir saya ya? Hahaha. Karir selalu berhubungan dengan keresahan hidup dan memilih karir berarti memilih prioritas hidup. Saya sendiri pernah satu tahun sebelas bulan bekerja di sebuah perusahaan besar. Namun saya tidak merasakan adanya sebuah meaning di sana. Rasanya seperti menggadaikan hidup demi uang. Tidak salah sih mejalani hidup seperti itu. Toh banyak juga orang tua teman saya yang merasa hidupnya seperti itu dan mereka mampu membentuk keluarga yang berfungsi dengan baik. Sayanya saja yang merasa kurang cocok.

Singkat cerita, setelah resign dari perusahaan tersebut, saya bertemu dosen saya dan beliau bermimpi ingin Xirka menyaingi perusahaan saya sebelumnya. Dengan gaji yang “hanya” 60% dari gaji sebelumnya, saya terima ajakan beliau.

Perlahan, selama dua tahun terakhir, saya merasa banyak belajar. Tidak hanya mengenai pengetahuan teknis, saya juga “terpaksa” belajar perencanaan finansial karena kondisi keuangan yang menjadi jauh berbeda. Sebenarnya kondisinya tidak terlalu parah karena saya juga berasal dari keluarga yang berpenghasilan di bawah UMR. Hanya saja tabungan saya lenyap dimakan orang. Hahaha

Seorang teman pernah mengingatkan untuk jangan terlalu terpaku pada uang. Tapi sebagai orang yang pernah 8 hari berturut-turut hanya makan mie instan, pernah menjalani masa kecil dengan bolak-balik rumah sakit, saya tidak mungkin tutup mata bahwa saya juga butuh uang. Tidak hanya untuk saya sendiri, tapi juga untuk dikirim ke ibu dan untuk keluarga kelak. Untuk itulah saya belajar mengenai pasar modal. Perlukah saya membahas pasar modal? Hmmm

Sekian pembahasan mengenai pilihan karir saya saat ini. Selamat berpuasa ^^